Namun, bila kita lihat dilapangan, karena pertanding-pertandingan dilaksanakan melalui klub-klub, maka setiap klub akan memiliki pendukung (suporter) sendiri-sendiri. Inilah yang dipermasalahkan banyak kalangan, para suporter-suporter tersebut seringkali bertikai. Bila pertandingan antar klub dumulai, seolah-olah genderang perang suci dimulai, para suporter rela mati demi klub bola, ikhlash membela klubnya, apalagi kalau bukan lillkurrah ta'ala...na'uzubillah min zalik...
Keadaan ini diperparah, dengan
informasi-informasi media yang tidak mengerti agama, awak media yang juga masih
memiliki fanatisme tinggi pada beberapa klub, akan menyajikan
informasi-informasi yang mengelu-elukan klub, bahkan sampai mengkultuskan.
Menarik judul berita pada harian Republika, edisi Sabtu 16 Juni 2012, "Roben:
Pertandingan Hidup dan Mati Melawan Jerman", apakah ini bukan sebuah
kultus, samar-samar walaupun hanya sebuah judul, lama-lama akan dianggap baik
juga, "demi bola..aku rela mati.." Saat ini, jika ada anak
manusia yang tidak memiliki kecondongan pada klub bola tertentu, maka
eksistensinya tidak dianggap, fanatisme klub seolah kewajiban, loyalitas yang
harus dibangun.
Bagi umat Islam, hidup dan mati hanyalah
demi Allah swt dan ridhaNya, hidup dan mati yang dipertaruhkan untuk selainnya,
berujung pada sia-sia belaka, karena yang disembah sesungguhnya tidak memiliki
apa-apa. Sementara loyalitas yang wajib bagi umat Islam, tentu atas dasar cinta
Allah swt, sunnah RasulNya saw dan para salafushalih. Wallahu a'lam bishawwab..
Sebenarnya tidak perlu befanatik buta pada
klub, sebatas loyalitas pada pemain-pemain bola yang beragama Islam, dan taat
mengerjakan ibadah, maka hal ini boleh-boleh saja. Ada banyak pemain muslim
bermain di klub-klub besar di dunia, baik Eropa atau liga-liga kecil disana. Kepada
mereka, sebagai umat Islam dan saudara seaqidah, maka sepantasnya kita beri
loyalitas tinggi pada mereka. Mendukung seratus persen kemenangan mereka,
insyaallah Islam akan menang dan berjaya.

0 komentar:
Posting Komentar